Perkembangan zaman menuntut kita untuk lebih update. Perubahan lifestyle pun diiringi oleh pengintegrasian teknologi. Kini kita dapat melihat perkembangan terbaru trend pakaian dan gaya hidup pada setiap tayangan yang kita lihat, mulai dari YouTube, Vine, Instagram, hingga sinema elektronik. Fokus kita kali ini adalah perubahan tayangan sinetron yang kini lebih mengedepankan gaya hidup remaja bonafide, romansa singkat, serta minimnya esensi pendidikan moral dan estetika yang diusung.
Sebut saja sinetron Anak Jalanan, di mana tokoh-tokohnya memerankan geng motor yang menggunakan motor seharga 25 jutaan ke atas, tinggal di rumah mewah, lahir dari kalangan orang kaya, kehidupannya dipenuhi romansa singkat a la remaja Indonesia, serta jarang sekali mengangkat realita kehidupan anak jalanan yang ada di Indonesia. Realita yang saya maksud adalah seperti anak jalanan yang memang anak jalanan, bukan geng motor. Street boys menurut saya seperti yang sering saya tonton di film-film barat ialah mereka yang yatim atau yatim piatu tinggal di kolong jembatan atau menginap di depan toko seseorang, beralaskan kardus, hidup penuh keceriaan untuk menutupi masa lalu yang kelam, perjuangan yang sukar untuk memenuhi keperluan sehari-hari, serta kerasnya kehidupan metropolitan untuk tubuh kecil mereka. Sampai di sini saya harap Pembaca mengerti arah pembicaraan kali ini.
Memang ada anak jalanan yang terlahir dari keluarga kaya, namun mereka rata-rata berlatar belakang broken home. Mereka mengisi hari-hari dengan menggunakan narkoba serta bermain perempuan. Ini semakin kesedihan dalam dunia perfilman. Tidak salah juga apa yang ditayangkan pada pertelevisian Indonesia, karena melihat nilai rating yang tinggi, wajar saja jika pebisnis saluran televisi ini meneruskan tayangan yang kurang bermanfaat.
Ganteng-ganteng Serigala, dari judulnya saja saya sudah merasa aneh. Jika memang serial ini mengadopsi Twilight Saga, pastinya mencantumkan kredit hak cipta pada akhir tayangan atau di awal, untuk mematuhi kode etik serta menjaga hak kekayaan intelektual.
Kita bandingkan dengan tayangan televisi pada era kepemimpinan Soeharto, Habiebie, Abdurrahman Wahid, hingga Megawati Soekarnoputri. Tayangan yang membekas pada ingatan saya saat itu adalah Si Doel, Warkop DKI, dan tayangan impor dari Jepang dan Amerika seperti Power Rangers, Kamen Raider, Ultraman, anime, dan sejenisnya. Mengapa? Karena pesan moral serta imajinasi yang diangkat memberi hal yang positif untuk kita tiru. Perjuangan Si Doel, komedi DKI, imajinasi Ultraman, semua itu memberi hidup yang baik. Anak kecil rela bangun pagi untuk menonton televisi, lalu berangkat ke sekolah atau bermain, dilanjutkan segera pulang untuk menonton Dora. Akan berbeda dengan sekarang di mana tayangan GGS ditayangkan diwaktu istirahat (sore hari) yang memberi dampak naiknya angka kendaraan bermotor, terlebih jenis kopling, terutama Satria FU, serta meningkatnya angka penjualan spare parts motor yang tidak sesuai standar. Selain itu juga meningkatnya razia anak sekolah yang membolos di saat jam pelajaran yang bisa kita temui di warnet dan kalau di malam hari di jalan-jalan yang sepi dan perempatan lampu merah.
Itulah dampak yang saya rasakan terhadap perkembangan kualitas tayangan televisi yang semakin menurun. Meskipun pendapat saya terkesan melebih-lebihkan, namun hal itu relevan dengan fakta yang ada sekarang. Untuk pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa dilanjutkan di kolom komentar di bawah. :)
Selamat malam :)
*untuk kedepannya akan saya tambahkan ilustrasi
Sebut saja sinetron Anak Jalanan, di mana tokoh-tokohnya memerankan geng motor yang menggunakan motor seharga 25 jutaan ke atas, tinggal di rumah mewah, lahir dari kalangan orang kaya, kehidupannya dipenuhi romansa singkat a la remaja Indonesia, serta jarang sekali mengangkat realita kehidupan anak jalanan yang ada di Indonesia. Realita yang saya maksud adalah seperti anak jalanan yang memang anak jalanan, bukan geng motor. Street boys menurut saya seperti yang sering saya tonton di film-film barat ialah mereka yang yatim atau yatim piatu tinggal di kolong jembatan atau menginap di depan toko seseorang, beralaskan kardus, hidup penuh keceriaan untuk menutupi masa lalu yang kelam, perjuangan yang sukar untuk memenuhi keperluan sehari-hari, serta kerasnya kehidupan metropolitan untuk tubuh kecil mereka. Sampai di sini saya harap Pembaca mengerti arah pembicaraan kali ini.
Memang ada anak jalanan yang terlahir dari keluarga kaya, namun mereka rata-rata berlatar belakang broken home. Mereka mengisi hari-hari dengan menggunakan narkoba serta bermain perempuan. Ini semakin kesedihan dalam dunia perfilman. Tidak salah juga apa yang ditayangkan pada pertelevisian Indonesia, karena melihat nilai rating yang tinggi, wajar saja jika pebisnis saluran televisi ini meneruskan tayangan yang kurang bermanfaat.
Ganteng-ganteng Serigala, dari judulnya saja saya sudah merasa aneh. Jika memang serial ini mengadopsi Twilight Saga, pastinya mencantumkan kredit hak cipta pada akhir tayangan atau di awal, untuk mematuhi kode etik serta menjaga hak kekayaan intelektual.
Kita bandingkan dengan tayangan televisi pada era kepemimpinan Soeharto, Habiebie, Abdurrahman Wahid, hingga Megawati Soekarnoputri. Tayangan yang membekas pada ingatan saya saat itu adalah Si Doel, Warkop DKI, dan tayangan impor dari Jepang dan Amerika seperti Power Rangers, Kamen Raider, Ultraman, anime, dan sejenisnya. Mengapa? Karena pesan moral serta imajinasi yang diangkat memberi hal yang positif untuk kita tiru. Perjuangan Si Doel, komedi DKI, imajinasi Ultraman, semua itu memberi hidup yang baik. Anak kecil rela bangun pagi untuk menonton televisi, lalu berangkat ke sekolah atau bermain, dilanjutkan segera pulang untuk menonton Dora. Akan berbeda dengan sekarang di mana tayangan GGS ditayangkan diwaktu istirahat (sore hari) yang memberi dampak naiknya angka kendaraan bermotor, terlebih jenis kopling, terutama Satria FU, serta meningkatnya angka penjualan spare parts motor yang tidak sesuai standar. Selain itu juga meningkatnya razia anak sekolah yang membolos di saat jam pelajaran yang bisa kita temui di warnet dan kalau di malam hari di jalan-jalan yang sepi dan perempatan lampu merah.
Itulah dampak yang saya rasakan terhadap perkembangan kualitas tayangan televisi yang semakin menurun. Meskipun pendapat saya terkesan melebih-lebihkan, namun hal itu relevan dengan fakta yang ada sekarang. Untuk pertanyaan dan diskusi lebih lanjut bisa dilanjutkan di kolom komentar di bawah. :)
Selamat malam :)
*untuk kedepannya akan saya tambahkan ilustrasi
Comments
Post a Comment